Lihat Questbook

Anak Ikut-ikutan Teman Beli, Wajar Gak Sih?

Sekelompok anak sekolah bermain bersama

Anak pulang sekolah, langsung ngomel. “Ma, semua temen aku punya tumbler karakter itu. Aku juga mau.” Ditanya kenapa, jawabnya cuma “pokoknya mau, semua punya”. Bukan karena dia butuh tumbler baru — punya lama masih bagus. Tapi karena satu hal sederhana: kalau semua orang punya, dan aku nggak, aku beda sendiri.

Wajar. Bahkan orang dewasa begitu. Kita ikut beli barang yang lagi rame, ikut nonton film yang lagi dibahas semua orang, ikut pesan menu yang paling laris tanpa baca menu lain. Anak gampang ikut-ikutan teman bukan tanda dia lemah atau gampang ketipu — itu jalan pintas yang otaknya pakai supaya cepat diterima. Punya barang sama = lebih gampang nyambung ngobrol, lebih gampang masuk kelompok main. Bagi anak SD, diterima teman itu penting banget, jauh lebih penting daripada logika “aku beneran butuh ini atau nggak”.

Yang bahaya bukan ikut-ikutannya. Yang bahaya adalah kalau itu jadi satu-satunya alasan dia mau sesuatu — dan dia sendiri nggak pernah berhenti sebentar buat nanya, “aku beneran suka ini, atau cuma karena teman-teman punya?”

Kenapa Anak Gampang Ikut-ikutan Teman

Coba bayangkan dari sisi anak. Selera dia sendiri itu masih samar — dia belum lama-lama kenal dirinya sendiri, belum punya banyak pengalaman buat tahu apa yang dia suka. Sementara selera teman itu kelihatan jelas di depan mata: dibawa ke sekolah, dipamerin, dibicarakan pas istirahat. Jadi kalau harus pilih antara “coba cari tahu apa yang aku suka” (susah, butuh waktu) versus “ikut aja apa yang lagi rame” (gampang, langsung dapat validasi), otak anak — otak siapa pun — akan condong ke yang gampang.

Ini juga sebabnya anak minder gak punya barang teman jadi hal yang sering muncul di rumah. Bukan minder karena barangnya jelek, tapi minder karena beda sendiri. Dan beda sendiri, buat anak SD, rasanya seperti risiko: risiko diejek, risiko nggak diajak main, risiko jadi bahan omongan. Tekanan sosial anak SD itu nyata, meski keliatannya sepele buat orang dewasa.

Jadi kalau anak minta sesuatu karena “semua temen punya”, jangan buru-buru dibilang “kamu itu gampang ketipu ya” atau “jangan ikut-ikutan dong”. Dua respons itu sama-sama nggak nolong — yang satu bikin dia ngerasa direndahkan, yang satu lagi cuma nyuruh tanpa ngasih cara. Yang dia butuh bukan larangan. Yang dia butuh adalah kebiasaan berhenti sebentar dan mengecek ke dalam dirinya sendiri sebelum ngikut ke luar.

Dua Misi yang Bikin Anak Ngecek Selera Sendiri

Ada satu case yang judulnya “Kalau Aku Suka Semua Suka”. Anak diminta memikirkan satu makanan atau minuman yang paling dia suka — favorit banget, yang kalau ditanya “makanan kesukaanmu apa” jawabannya itu. Lalu dia tawarkan makanan itu ke lima orang berbeda di rumah. Bukan cuma nawarin terus selesai — dia hitung, berapa dari lima orang itu yang beneran suka, dan berapa yang nggak.

Hasilnya hampir selalu mengejutkan anak. Makanan favoritnya sendiri — yang menurut dia “pasti semua orang juga suka” — ternyata ada yang nolak, ada yang bilang biasa aja. Dari situ dia nemuin sendiri: suka itu personal. Nggak ada makanan yang disukai semua orang, sama seperti nggak ada barang yang “wajib” disukai semua anak cuma karena lagi rame. Kalau makanan favoritnya sendiri aja nggak disukai semua orang, kenapa dia harus ikut suka sesuatu cuma karena orang lain sukanya?

Case kedua, “Populer Pasti Paling Bisa”, nyerang pertanyaan yang mirip dari sudut lain. Anak diminta pikirkan siapa teman paling populer di kelasnya, terus sebutkan tiga hal yang paling bisa dilakukan teman itu. Habis itu, dia pikirkan lagi: siapa teman yang paling jago gambar, atau paling cepat lari. Apakah orangnya sama dengan yang paling populer tadi?

Biasanya nggak. Anak yang populer belum tentu yang paling jago di bidang apa pun — dia populer karena alasan lain, entah karena rame, karena baik, karena kebetulan. Dari sini anak belajar memisahkan dua hal yang sering ketuker di kepalanya: “banyak yang suka” itu beda dari “beneran bagus/beneran cocok buatku”. Barang yang lagi hits di kelas belum tentu barang yang paling dia butuhkan — sama seperti anak paling populer belum tentu anak paling jago menggambar.

Kedua misi ini nggak butuh alat mahal, cukup barang dan orang yang ada di rumah. Tapi efeknya nempel karena anak ngalamin sendiri, bukan cuma didengerin nasihat. Ini juga inti dari cara kerja panduan anak konsumtif — anak lebih percaya hasil eksperimennya sendiri daripada ceramah orang tua.

Cara Merespons Tanpa Meremehkan Perasaannya

Kalau lain kali anak ngotot minta barang karena teman-temannya punya, coba jangan langsung menolak atau langsung menuruti. Dua-duanya melewatkan kesempatan buat dia belajar. Coba tanya pelan, “kalau nggak ada temen yang punya itu, kamu masih mau nggak?” Bukan buat menjebak, tapi buat ngajak dia beneran mikir sebentar.

Kalau jawabannya “masih mau” — ya sudah, itu memang seleranya, sah-sah saja. Kalau dia diam, mikir, terus bilang “nggak tau juga sih” — itu justru momen bagus. Bukan buat disalahin, tapi buat dikasih tahu bahwa jeda itu berharga. Anak yang terbiasa berhenti sebentar sebelum ikut arus, kelak akan lebih tahan waktu dihadapkan sama iklan, tren, atau ajakan beli yang jauh lebih pintar merayu daripada sekadar teman sekelas.

Perasaan pengin diterima itu nggak salah dan nggak perlu dihilangkan — itu manusiawi. Yang perlu dibangun cuma satu kebiasaan kecil: sebelum bilang “aku mau”, tanya dulu ke diri sendiri, “aku suka beneran, atau cuma ikut?” Kebiasaan sekecil itu, kalau dilatih sejak SD lewat hal-hal sederhana kayak makanan favorit atau ngamatin teman sekelas, bisa jadi bekal yang jauh lebih kuat daripada larangan apa pun.

Dua misi di atas cuma pintu masuk. Kalau anak mulai ketagihan nguji dugaannya sendiri, Kidealogy Questbook punya 150 kepercayaan sehari-hari lain yang disusun per jenjang kelas — semuanya diuji pakai barang yang sudah ada di rumah.

  • Tahan dulu, jangan langsung bilang iya atau nggak pas anak minta karena semua temen punya
  • Tanya pelan: kalau nggak ada temen yang punya, kamu masih mau nggak?
  • Kasih waktu anak diam dan mikir, jangan buru-buru diisi jawaban dari orang tua
  • Kalau dia jawab masih mau, hargai itu sebagai seleranya sendiri
  • Kalau dia jawab nggak tau juga, bilang bahwa jeda tadi udah langkah yang bagus, bukan hal yang salah

Pertanyaan yang sering muncul

Umur berapa anak mulai bisa diajak mikir soal ikut-ikutan teman kayak gini?

Anak usia SD, dari kelas 1 sampai 6, biasanya sudah bisa diajak ngobrol soal ini karena mereka mulai sadar ada kelompok pertemanan dan mulai bandingin diri sama teman. Cara nanya aja yang beda: anak kecil butuh pertanyaan yang lebih sederhana, anak lebih besar bisa diajak mikir lebih dalam.

Berapa lama biasanya sampai anak nggak gampang ikut-ikutan lagi?

Nggak ada patokan waktu pasti karena tiap anak beda. Yang penting dilihat bukan hasil instan, tapi apakah kebiasaan berhenti sebentar sebelum ikut arus makin sering muncul sendiri tanpa diingetin. Itu tandanya kebiasaannya mulai nempel.

Gimana kalau anak tetap ngotot minta walau udah ditanya pelan-pelan?

Itu wajar dan bukan berarti caranya gagal. Kalau setelah dikasih jeda dia tetap yakin mau, berarti itu memang seleranya sendiri, bukan cuma ikut-ikutan. Orang tua tinggal putuskan sesuai pertimbangan keluarga, bukan soal salah atau benar lagi.

Apakah ini artinya anak jadi nggak boleh punya barang yang sama kayak temannya?

Bukan begitu. Anak tetap boleh pengin barang yang sama kayak teman, itu nggak salah. Yang dilatih cuma kebiasaan mikir dulu apakah itu beneran maunya sendiri atau cuma biar nggak beda sendiri. Hasilnya bisa tetap beli, cuma sekarang dia tahu alasannya.

Kapan waktu paling pas ngobrolin soal ini, pas anak lagi minta atau di waktu lain?

Paling pas justru pas momennya lagi hangat, waktu anak baru minta sesuatu karena teman-temannya punya. Di situ perasaannya masih jelas dan pertanyaan reflektif kayak tadi lebih nyambung, dibanding diomongin belakangan waktu momennya udah lewat.

Bedanya melatih ini sama cuma bilang jangan boros ke anak apa?

Bilang jangan boros itu larangan yang nggak ngasih anak cara mikir sendiri, jadi biasanya cuma didengerin sebentar lalu dilupain. Melatih anak nanya ke diri sendiri dulu itu ngasih dia alat yang bisa dia pakai sendiri tiap kali situasinya muncul lagi, tanpa orang tua harus selalu ada di sampingnya.